7 Januari 2014
Hari pertama ujian akhir semester (UAS) dengan mata kuliah
analisis regresi dan korelasi. Sebelumnya sesuai dengan kesepakatan dengan
dosen, ujian diperbolehkan menggunakan laptop (memakai software untuk
memudahkan perhitungan dan pengujian soal), kalkulator, daftar tabel, dan open
rumus. Soal ujian terdiri dari 5 soal dan wow perhitungan serta pengujiannya
membutuhkan ketelitian dan kesabaran sama seperti soal ujian tengah semester
(UTS) hanya saja soal UAS lebih kompleks dan terperinci. Di jadwal ujian
berlangsung selama 2 jam tetapi pada kenyataannya Bapak menunggu hingga 3 jam. Saya
hampir menyelesaikan semua soalnya hanya saja nomor 1 belum tuntas saya
kerjakan dan jawaban saya “keceletot”
sedikit. Hingga setelah pengumpulan lembar jawaban ujian, adik tingkat yang
duduk di sebelah saya berkata jawaban nomor 1 milik saya salah karena tidak
sesuai dengan urutan yang diberikan di soal. Akan tetapi saya yang awalnya percaya
diri dengan apa yang saya kerjakan pun dihinggapi keraguan dan akhirnya saya
jadi badmood sendiri karena merasa
jawaban saya salah dan harus merelakan kehilangan 30 point.
Di perjalanan pulang tentunya badmood saya tak kunjung hilang, tetap membayangi. Entah kenapa
jika sedang badmood seperti itu saya
ingin makan makanan yang enak sekali agar badmood
nya hilang dan pada saat itu sudah dibayangkan baso super pedas (haha). Alhamdulillah
sesampainya di rumah, ateu sudah membelikan saya baso, saya makan baso di
campur pedas banyak tersebut dengan lahap. Saat menyantap baso tersebut, ateu
menanyakan bagaimana dengan ujian tadi? Seketika saya pun diam dan berkata “jangan
di bahas dulu teu, fokus makan baso dulu (haha) *hening* lalu saya melanjutkan,
salah ateu, ati salah ngisi, jawabannya beda sama yang lain *hiks).
Tak lama kemudian Bibi, Mang dan kawan-kawannya datang dari
Garut sehabis melayat di Cimahi. Ateu pun bercerita pada Bibi bahwa saya sedang
badmood dikarenakan salah mengisi
soal ujian. Bibi saya ini hampir setiap kali bertemu selalu memberi saya
apapun, uang, barang dan kasih sayang :D kali itu Bibi memberi saya uang dan
berkata “nih supaya ga badmood”.
(haha)
“Makanan dan uang tak kan bisa menghilangkan badmood yang teramat sangat karena
keteledoran saya ini (wkwk) *eh resti kufur dikau? Astaghfirullah..
Alhamdulillah atas limpahan rezekiMu”
Hingga malam tiba, dikau
ngapain resti? Ya saya pun belajar materi untuk ujian besoknya meskipun
terganggu dengan badmood ujian hari
ini tetapi saya mencoba melupakan, mengikhlaskannya, apapun nilainya saya
berusaha agar nanti saya bisa menerima hasil akhirnya dengan ikhlas. Saat saya
belajar, untuk menemani belajar dan pelipur lara maka saya kabarkan apa yang
saya rasa lewat grup WA kepada sahabat-sahabat saya. Hasilnya saya belajar
sambil tertawa karena respon sahabat-sahabat saya. Sahabat saya mengatakan
#prayforresti dan semuanya mengikuti. Awalnya saya merasa bahwa saya adalah
bencana (karena memakai hastag #prayforresti) tetapi sahabat saya mengingatkan “emangnya
#prayfor... buat musibah doang? Enggak kali....” dan saya pun tersadar bahwa
berdo’a bukan hanya saat terkena bencana saja, saat mendapat karunia pun harus
berdo’a. Terimakasih ya kalian, karena kalian telah membuat saya tertawa dan
menemani saat-saat belajar meskipun raga kita berjauhan :D (thankyou WA dengan
nama grup yang selalu berubah setiap kali nya ^^v grup “aaaaak kangen”).
8 Januari 2014
Sebelum ujian hari ini di mulai, adik tingkat saya
mengabarkan kabar gembira “teteh, nilai mata kuliah S teteh dapat nilai A,
teteh udah tahu belum?”
Dan saya pun menjawab “Alhamdulillah, masa sih? Kamu lihat
dimana? Kapan?”
Adik tingkat : “iya teteh, kemarin lihat di Bapaknya langsung”
(dalam hati saya) “Astaghfirullah... malunyaaaa kemarin udah badmood sepanjang siang dan malam dan
hari ini Allah kasih kabar gembira, ampun Ya Rabb”
Sesampainya di rumah saya pun mengabarkan kepada
sahabat-sahabat saya lewat grup yang selalu gonta-ganti nama itu (hehe).
13 Januari 2014
Tanggal 8 Januari sebenarnya saya pulang ke rumah “huhujanan” karena saya lupa membawa
payung serta dan tanggal 12 Januari pun saya “huhujanan” kembali saat di Garut. Rencana hari Senin tanggal 13
Januari ini saya akan mengerjakan skripsi bersama teman saya, akan tetapi saat
saya bangun pagi dan hujan yang tak kunjung berhenti menggontaikan semangat
saya untuk pergi ke kampus. Seketika saya pun membatalkan rencana saya dan
teman saya tersebut. Selang ±1 jam kemudian, entah kenapa kaki
saya amat sangat dingin, kening hangat, dan sakit punggung. Yeeee alhamdulillah
sakit, horeee hip hip :D (kenapa seneng sakit? Karena saya mengizinkan untuk
sakit, ingin istirahat sementara :D Allah kabulkan). Setelah minum obat, saya
pun tidur dengan menggunakan kaos kaki, selimut, dan alhamdulillah nyenyak. Beberapa
jam tidur, saya pun berkeringat dan merasa enakkan.
Entah karena terlalu lincah atau apa, b’ada
maghrib saya merasa tidak enak lagi badannya, sehingga malam itu saya menahan
rasa sakit punggung yang mendera, kaki yang menggigil kembali dan sedikit
pusing.
Saat berusaha untuk tidur kembali sambil menahan sakit itu, masuklah chat dari adik tingkat saya mengabarkan hasil ujian yang isinya “mantep yang anregkonya dapet A”. Sontak saya pun bertanya “ih yang bener? Tahu darimana?” kemudian adik tingkat saya ini mengirimkan photo nilai-nilai tersebut. Alhamdulillah, seketika itu juga sakit saya serasa hilang :D saya merasa tidak percaya dengan hasil tersebut, tercengang lebih-lebih ketika saya tahu nilai UAS saya tertinggi, aneh bin ajaib. Langsung saya kabarkan kepada sahabat-sahabat saya di grup gonta-ganti nama tersebut. Sahabat saya yang membuat hastag pertama #prayforresti terserbut berkomentar “Biarkan tangan Allah yang bekerja yul... kamu hanya cukup mempercayai nilai itu” Entah kenapa komentarnya membuat “nyesss” di hati dan saya ingat selalu dengan komentar tersebut.
Setelah dirunut ulang, saya bertanya pada Allah, “Apakah saya harus merasa down terlebih dahulu baru Allah beri saya kebahagiaan? Haruskah saya sakit dahulu baru Allah beri lagi kebahagiaan yang lainnya?” Astaghfirullah.. saya menyadari bahwa saya keliru dalam menyikapi kasih sayang Allah yang selalu ada tiap detiknya. Saya salah dalam menyikapi kehidupan, seharusnya jangan terlalu perasa dan berburuk sangka. Seharusnya lebih kalem, dinikmati aja seluruh kehidupannya, Allah mau begini ridho, Allah mau begitu ridho. Haduuuh mohon ampun Gusti nu Agung.
20 Januari 2014
Hari ini saya dan sahabat saya kembali ke kampus untuk
mengurus FRS. Alhamdulillah proses pengisian, tanda tangan dosen sampai
pengumpulan lancar. Lalu salah satu mata kuliah yang saya ambil ulang pun
hasilnya telah diumumkan, nilai saya B alhamdulillah. Saya senang melihat
berita pengumuman itu langsung tetapi saya pun keheranan (dalam hati) “tumben
Allah ngasih kabar gembira dahulu, biasanya kan dikasih badmood, down atau
sakit dulu” -,-a resti
yulianiiiiii prasangkanya enggak banget. Ternyata kabar buruknya adalah
handphone saya error, tidak bisa masuk ke home, terus merestart. Awalnya saya
kesal dan hampir di buat badmood. Akan
tetapi ketika ingat prasangka saya tersebut, tiba-tiba langsung kalem
(Alhamdulillah) lebih menerima dan mengingat “Allah lagi kasih ujian tuh,
kalem, sabar resti jangan terbawa emosi” :D
“Allah ampuni hambamu ini yang terkadang tidak mengerti dengan bentuk
kasih sayangMu”